Sabtu, 13 Juli 2013

MENDUNG MENGGANTUNG DI ATAS TANAH HARAPAN

Cerpen Pendidikan
MENDUNG MENGGANTUNG DI ATAS TANAH HARAPAN

Matahari baru saja menampakkan wajahnya. Semburat merahnya memberi isyarat bahwa hari ini bakal cerah. Titik air bercampur embun masih bergelantungan di daun-daun dadap yang berjejer di jalan desa yang masih sepi. Kulangkahkan kakiku walaupun udara dingin ditambah dengan jalanan becek bekas hujan tadi malam. Ditambah dengan bajuku yang masih “baal” sehabis dicuci kemarin sore.  Perjalanan  menuju sekolah hari ini terasa berat. Tadi malam aku tak bisa tidur karena atap rumahku bocor. Daun rumbia atap rumahku sudah banyak yang berlubang, rapuh dimakan usia. Tetes air hujan membasahi sebagian rumahku dan mengenai wajahku. Baru setelah hujan agak reda aku bisa tidur. Sementara perut terasa perih dan keroncongan karena sejak siang,  sepulang sekolah kemarin hanya diisi beberapa potong rebusan ubi kayu dan air putih.
“Man ! Lukman ! Tunggu “. Kudengar ada orang memanggil dari samping kananku. Aku kenal dengan suara cempreng ini, pasti si Usuf.
“Kita pergi sama-sama ya “. Aku hanya mengangguk.
Sekolah satu-satunya yang kami miliki sekarang  cukup jauh dari desaku. Itupun dibangun atas swadaya masyarakat sekitar yang peduli terhadap pendidikan. Untuk sampai ke sana kami harus melewati kebun-kebun karet yang rimbun, derasnya air sungai Batang Lua, tajamnya kerikil-kerikil dasar sungai yang kadang-kadang kalau tidak hati-hati bisa melukai jari dan telapak kaki, bahaya gigitan “buntal” yang bisa melukai bahkan memotong jari kaki kami  dan persawahan milik penduduk sekitar. Kami sudah sampai di pinggir sungai. Air sungai begitu deras. Seandainya  tadi malam hujan tidak turun dengan derasnya  kami mungkin masih bisa menyeberanginya tanpa rakit. Ada sedikit rasa sedih dan galau kalau teringat dengan keadaan ini.
“Man, kamu ada uang tidak buat nyewa rakit ? “ tanya Usuf begitu kami tiba di pinggir sungai setelah melewati kebun karet.
“Buat uang saku saja tak ada, apalagi untuk menyewa rakit, Suf “, jawabku sambil tetap melangkah di antara genangan air. Ada rasa perih di sela-sela jari kakiku yang hanya  memakai sandal jepit butut sebagai alas kaki. Sandal itupun  pemberian seorang mahasiswa yang pernah KKN di desa kami.
“Aku pun tak punya uang”,  kata Usuf.
 “Sejak ayahku meninggal, ibu dan kakakku bekerja sebagai buruh tani. Karena hasilnya tidak seberapa, kami harus menghematnya. Hanya untuk keperluan yang penting saja, jadi aku tidak membawa uang saku ke sekolah”, cerocos Usuf panjang lebar.
“Kita seberangi saja “ ujarku pendek.
“Tapikan arus sungainya sangat deras “ kata Usuf. Kecemasan nampak di wajahnya yang tirus. Agaknya ia takut setelah mendengar ada anak yang terseret arus sungai minggu lalu.
“Pegangan di batu, mudahkan?” kataku memberi semangat. Padahal hatiku sendiri ketar-ketir mengingat peristiwa itu.
“Ya sudah daripada tidak sekolah “ katanya pasrah.
Kulepas baju dan celana sehingga hanya menyisakan celana dalam tanpa baju. Sandal jepit pun kulepaskan agar tak hilang. Kulipat dengan rapi baju dan celana kemudian kumasukkan ke kantong keresek bersama buku-buku agar nantinya tak basah.
”Man, kamu duluan”, kata Usuf memintaku duluan.
 Kubaca Bismillah agar selamat sampai ke seberang. Kuangkat tinggi-tinggi kantong keresek di atas kepala agar tidak basah terkena cipratan air. Sementara sebelah tanganku sibuk memilih-milih batu besar yang bisa kupegangi. Sesekali kaki terperosok ke dasar yang lebih dalam. Kulihat Usuf terus mengintilku dari belakang.
“Suf, hati-hati, ya” kataku memperingatkan Usuf. Air sungai makin ke tengah makin deras.
            Walaupun dengan bersusah payah, akhirnya kami pun sampai ke seberang sungai. Tergesa-gesa kupakai kembali celana dan bajuku.
“Alhamdulillah,” ucapku spontan.  Ayo Suf, cepat pakai bajumu nanti kita terlambat”.
“Tunggu Man,”  kata Usuf sambil berlari kecil memakai bajunya.
“Mungkin di sawah jalannya bakal licin “ gumamku dalam hati.
Perjalanan kami masih panjang. Bentangan sawah masih harus kami lewati, ditambah lagi dengan perkampungan penduduk barulah sampai ke sekolah.
Ternyata benar pikiranku, jalan di sawah sangat licin akibat hujan tadi malam. Usuf sudah beberapa kali hampir terjatuh. Untunglah dia dengan cekatan berpegangan pada kayu-kayu di pinggir sawah. Sendal jepit kulepas agar tidak terpeleset. Sinar matahari menerobos di sela-sela daun enau yang kami lalui dengan berlari. Di jalan desa orang-orang  sudah sepi. Mereka sudah bekerja di sawah atau di kebun. Ini merupakan pertanda bahwa kami sudah  terlambat.
Keringat membasahi seluruh tubuh kami ketika  sampai di halaman sekolah. Sayup-sayup kudengar suara Pak Mugni, guru yang sekaligus menjadi wali kelas kami menjelaskan pelajaran Bahasa Indonesia. Rasa lelah terpaksa kami telan, tanpa keluhan. Inilah yang menyebabkan kami sering tertidur saat belajar.
Kuketuk pintu dan kuucapkan salam kepada guru dan teman-temanku yang sudah memulai pelajaran di kelas. Aku dan Usuf terpaksa harus ketinggalan pelajaran, tapi aku masih bersyukur dapat sampai ke sekolah dengan selamat
Belum lama aku duduk, tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Meski ketukannya tidak keras, namun karena suasana saat itu agak hening ketukan itu membuat kami semua terkejut. Pak Junaidi, guru olahraga berdiri tepat di depan pintu begitu Aisyah yang duduknya persis dekat pintu membuka dengan perlahan.
Setelah berbicara sebentar dengan Pak Mugni, Pak Jun begitu biasa kami memanggil beliau, berdiri di depan kelas.
“Anak-anak, hari ini kalian belajar di rumah saja, karena …..
Belum selesai Pak Jun bicara, anak-anak sudah memotongnya.
“Yah ….Pak?!” terdengar koor anak-anak menyahut. Riuh gaduh suara anak-anak menyambut pengumuman yang disampaikan Pak Jun kepada kami. Sebagian anak menyambut gembira karena mereka bebas untuk bermain,  sebagian lagi nampak terdiam dengan wajah kecewa, termasuk aku dan Usuf. Seakan-akan perjalanan jauh yang melelahkan terbuang sia-sia.
Di luar langit yang tadinya cerah, berubah gelap. Ada deretan awan mendung yang mengantung. Kulangkahkan kaki dengan gontai menuju pulang. Panggilan Usuf yang memintaku untuk menunggunya tak kuhiraukan. Kami terus berjalan dalam diam menuju pulang. Aku pulang membawa segumpal harapan yang ku bungkus dengan kecewa.
Titik-titik gerimis mulai berjatuhan, lama kelamaan titik-titik itu berubah menjadi hujan deras yang mengguyur seluruh tubuh kami. Ku biarkan derasnya hujan mengguyur tanpa ada keinginan un tuk berteduh. Semoga guyuran ini dapat mengurangi rasa kecewa dan penat yang menggayutiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar